Aktual.co.id – Sudah umum diketahui olahraga teratur memberikan manfaat bagi kesehatan pada pelakunya, tetapi seperti apa tepatnya manfaat tersebut pada tingkat seluler masih belum jelas.
Sebuah penelitian telah mengidentifikasi serangkaian perubahan dalam metabolisme dan sistem kekebalan tubuh yang membedakan orang berolahraga secara teratur dengan orang yang memiliki gaya hidup kurang aktif.
Diberitakan oleh livescience bahwa temuan yang dipublikasikan 18 September 2026 di jurnal Science Advances ini menunjukkan potensi jalur mengelola penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Tim peneliti menganalisis data dari Chinese Immune Multi-omics Atlas (CIMA), yang mencakup data dari 400 orang dewasa yang memberikan sampel darah dan menjawab kuesioner tentang gaya hidupnya.
Guna menangkap efek olahraga, tim menyertakan data dari peserta yang paling banyak atau paling sedikit berolahraga.
Satu kelompok terhimpun berolahraga tiga kali seminggu, lalu 150 menit olahraga sedang atau 75 menit olahraga intensitas tinggi. Sementara kelompok yang tidak aktif tidak berolahraga sama sekali.
Peneliti menganalisis sampel darah untuk penanda fisiologis, seperti kadar gula darah dan lemak. Mereka menemukan peserta yang banyak berolahraga menunjukkan tanda-tanda peningkatan metabolisme gula dan lemak, metabolisme otot yang lebih kuat, dan kadar molekul antioksidan yang lebih tinggi yang melawan proses kerusakan sel .
“Ini adalah makalah yang sangat bagus, yang menunjukkan, kali pertama apa yang terjadi ketika bagi yang berolahraga pada tingkat intraseluler,” kata Dr. Michael Siebers , seorang peneliti di Universitas Duisburg-Essen.
Analisis ini menggunakan pendekatan multiomik, yang menggabungkan data dari berbagai sumber biologis. Sumber-sumber tersebut meliputi metabolit (produk sampingan metabolisme), lemak, protein, dan RNA (kerabat DNA yang membantu membangun protein).
Tim tersebut juga mempelajari fitur DNA yang disebut aksesibilitas kromatin. Gen tergulung pada heliks DNA, menciptakan struktur yang menyerupai gulungan film yang dikemas rapat.
Aksesibilitas kromatin yang tinggi berarti gulungan tersebut tidak tergulung rapat, sehingga gambar individual pada film tersebut dapat dilihat lebih mudah.
Pada akhirnya, gen-gen tersebut lebih mudah diaktifkan. Dalam sel, mekanisme ini penting untuk memungkinkan gen ditranskripsi dan diterjemahkan menjadi protein yang membantu tubuh berfungsi dengan baik.
Secara bersama-sama, analisis ini memungkinkan peneliti untuk melihat lebih cermat bagaimana sel-sel pada orang yang berolahraga secara teratur berfungsi berbeda dari orang-orang dengan gaya hidup kurang aktif.
Penelusuran mendalam menunjukkan perubahan pada sel-sel imun. Aktivitas pasukan imun pelaku olahraga, termasuk sel T sitotoksik dan sel pembunuh alami, mengalami peningkata yang signifikan, dibandingkan orang yang tidak aktif.
Sel imun naif, yang bertindak cadangan tidak terspesialisasi dan dapat direkrut ke dalam pasukan imun, memiliki aksesibilitas kromatin yang besar pada gen yang dibutuhkan melawan ancaman.
Tim juga mencatat perubahan pada sel-sel yang bertugas memberi peringatan kepada sistem kekebalan tubuh lainnya tentang ancaman, yang disebut monosit imun dan sel B.
Pada orang yang berolahraga teratur, sel-sel ini memiliki peningkatan ekspresi gen pemberi sinyal peringatan. Temuan tersebut menunjukkan aktivitas fisik teratur dapat membuat sistem kekebalan tubuh lebih siap melawan potensi ancaman.
Sudah diketahui tidak berolahraga merupakan faktor risiko kondisi kesehatan kronis, termasuk diabetes tipe 2. Studi ini memberikan perspektif molekuler tentang manfaat kesehatan sistemik dari olahraga, demikian tulis para peneliti.
Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan. Siebers menunjukkan selain jumlah menit peserta berolahraga, penelitian ini tidak mencatat jenis olahraga apa yang dilakukan dan memiliki sedikit informasi tentang susunan fisik peserta.
Para peneliti juga tidak dapat menunjukkan olahraga teratur menyebabkan peningkatan kekebalan tubuh. Ada kemungkinan penurunan aktivasi sistem kekebalan tubuh pada peserta yang kurang aktif membuat mereka kurang mampu berolahraga.
Terlepas dari keterbatasannya, penelitian mendalam tentang dasar seluler dari olahraga ini penting meningkatkan pemahaman tentang berolahraga terasa menyenangkan. (ndi/livescience)
