Aktual.co.id – Empati bukan tentang bersikap baik melainkan, hadir, tersedia, terbuka. Namun banyak orang yang tampak dingin, tidak peduli secara emosional. Inilah bagian dari kekurang empati.
Artikel ini bukan tentang menghakimi orang yang kesulitan berempati. Artikel ini tentang membantu mengenali tanda-tanda kurang empati sehingga dengan kesadaran penuh bisa menghindari perilaku tersebut. berikut ciri yang ditulis oleh Lachlan Brown.
Mengandalkan Logika atau Analisis
Ketika seseorang menanggapi emosi dengan logika dingin kemudian mengucapkan ‘Yah, secara statistik…”, kalimat tersebut menandakan pemutusan hubungan emosional. Empati bukan tentang memahami pengalaman seseorang berdasarkan literatur. Melainkan merasakan perasaan orang lain.
Menghindari Percakapan yang Sulit
Menghadapi emosi orang lain bisa mengancam bagi seseorang untuk menghindar. Akhirnya memilih menutup diri, mengalihkan topik pembicaraan, atau menghilang begitu saja.
Ketahuilah, percakapan yang sulit adalah tempat empati tumbuh. Artinya tetap hadir dalam keadaan percakapan yang rumit sekalipun.
Jarang Meminta Maaf
Orang yang kurang empati sering tidak sadar jika tindakannya berdampak pada orang lain. Dalam beaknya merasa paling benar sampai – sampai tidak menyadari penderiaan orang lain.
Empati adalah kemampuan untuk berkata peduli terhadap orang lain dalam bentuk kehadiran serta memahami beban dari orang lain.
Mudah Terganggu oleh Ekspresi Emosional
Menangis membuat orang kurang empai tidak nyaman. Kemarahan terasa seperti serangan pribadi. Keluhan dianggap sebuah kerapuhan.
Kondisi ini menantang kendali emosi orang yang tidak memiliki empati. Sejatinya, empati mengharuskan untuk melepaskan, melembutkan, membiarkan.
Kesulitan Mengenali Isyarat Emosioan yang Halus
Orang yang kurang empati sering kali tidak menyadari tanda-tanda keheningan: jeda sebelum berbicara, nada suara menurun, keheningan yang berkepanjangan. Ini bukan sekadar momen canggung melainkan sinyal emosional.
Mengembangkan kesadaran membantu orang lebih menyadari momen-momen halus ini. Ketika seseorang tidak terlalu terpaku pada diri sendiri, maka akan mulai merasakan orang lain dengan lebih jelas.
Fokus pada Diri Sendiri
Pernah berbagi sesuatu yang rentan, hanya untuk mendengar, “Oh, itu juga terjadi padaku—biarkan aku menceritakannya padamu!.”
Kalimat di atas terkesan empati karena ikut berbagi, padahal sinyal tersebut adalah sinyal untuk fokus terhadap diri sendiri. Empati adalah hadir untuk mendengarkan terlebih dahulu serta memahami beban orang lain.
Meremehkan Emosi
Frasa seperti “jangan khawatir,” atau “kamu terlalu sensitif” sering kali muncul karena ketidaknyamanan terhadap emosi. Mencoba membantu meminimalkan rasa sakit hanya membuat orang lain merasa lebih sendirian.
Memberi Nasihat daripada Mendengarkan
Ketika seseorang kesakitan, dorongan untuk “memperbaiki” keadaan dapat mengambil alih. Namun, sering kali, orang tidak menginginkan solusi—mereka menginginkan kehadiran.
Empati bukan tentang pemecahan masalah. Empati adalah tentang mendampingi seseorang dalam ketidaknyamanannya tanpa berusaha menghindarinya.
Menyela atau Berbicara di atas Orang Lain
Orang seperti ini berpikir bersemangat atau bergairah ketika bertukar pikiran. Sehingga sering mendominasi pembicaraan dan tidak mempedulikan kebutuhan emosi orang lain.
Belajar untuk mengendalikan diri ketika berdiskusi atau bertukar pendapat dengan orang lain. Karena cukup mendengar saja sudah bagian dari menghargai pendapat orang lain. (ndi)
