Perilaku Orang yang Menghambat Tujuan Padahal Sudah Terencana Baik
aktual.co.id – Jika tujuan jelas tetapi tidak pernah bertindak, inilah yang sebenarnya menghentikan. Apa yang sebenarnya menghambat kita? Apakah ketakutan? Kurangnya motivasi? Atau sekadar kesalahpahaman tentang cara mengubah tujuan menjadi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti?
Tanpa jargon, tanpa basa-basi – hanya saran untuk membantu mewujudkan impian.
Tidak jujur pada Diri Sendiri
Akar hambatan ini, ada satu yang menonjol: tidak jujur terhadap diri sendiri. Suatu tujuan sungguh-sungguh selaras dengan piliha hidup maka menjalaninya akan mudah untuk ditempuh.
Lakukan perenungan apakah tujuan sudah sesuai dengan minat diri. Bila tujuan cerminan jati diri yang sebenarnya, mengambil tindakan menjadi hal yang wajar dan memuaskan. Karena tidak sekadar mencapai tujuan, namun berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Penundaan
Penundaan merupakan hambatan umum yang mencegah mengambil tindakan untuk mencapai tujuan. Menunda-nunda tugas hingga hari berikutnya, terutama tugas tersebut tampak menakutkan atau kurang menarik.
Menunda-nunda bukan sekadar kemalasan namun tanda adanya masalah mendasar seperti takut gagal, kewalahan, atau kurangnya motivasi. Penundaan kronis dapat menimbulkan stres, kinerja buruk, dan harga diri rendah.
Perfeksionisme
Perfeksionisme dapat menjadi hambatan besar saat ingin bertindak sesuai tujuan. Semua begitu takut membuat kesalahan atau tidak melakukan sesuatu dengan sempurna sehingga tidak melakukan apa pun sama sekali.
Jadi, jika terjebak dalam pengejaran kesempurnaan, ingatlah bahwa lebih baik mengambil tindakan yang tidak sempurna daripada tidak melakukan tindakan sama sekali. Melalui kesalahan, kita belajar, tumbuh, dan akhirnya bergerak lebih dekat ke tujuan kita.
Kurangnya Kepercayaan diri
Percaya pada diri sendiri adalah langkah pertama mencapai apa pun dalam hidup. Ini tentang mengetahui bahwa semua harus mampu, pantas, dan cukup kuat untuk mengatasi rintangan apa pun yang mungkin menghadang.
Percaya pada kekuatan sendiri untuk menciptakan perubahan dalam hidup. Semua harus percaya bahwa meskipun tidak memiliki keterampilan atau sumber daya saat ini, setidaknya mampu belajar, tumbuh, dan menemukan jalan.
Tujuan yang Tidak Ditentukan
Memiliki tujuan yang jelas merupakan langkah awal yang baik, tetapi apakah tujuan tersebut sudah cukup jelas? Terkadang, tujuan bisa jadi tidak jelas atau terlalu luas, dapat menyulitkan untuk mencapainya.
Dengan mendefinisikan tujuan dalam istilah-istilah yang spesifik, maka menciptakan jalur tindakan yang jelas. Ini bukan lagi tentang ‘ingin menjadi lebih sehat’, tetapi tentang ‘ingin menurunkan berat badan 10 pon dalam 3 bulan dengan berolahraga 3 kali seminggu dan mengurangi makanan cepat saji’.
Kewalahan Karena Besarnya Tugas Tersebut
Ketika menetapkan tujuan, terutama yang besar, terasa seperti gunung yang tinggi untuk didaki. Penelitian menunjukkan bahwa dihadapkan dengan tugas besar, otak bisa masuk ke semacam mode “kelebihan beban”.
Banyak yang kesulitan menyelesaikan tugas karena beban pekerjaan yang terlampau tinggi. Sehingga menjadi tertunda bahkan tidak terselesaikan. Maka kuncinya adalah memecah tujuan menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan mudah dikelola.
Dengan cara ini, alih-alih kewalahan oleh besarnya tugas, Anda dapat fokus pada satu langkah pada satu waktu.Konsep ini sebenarnya digunakan oleh para pengusaha dan pemimpin sukses di seluruh dunia. Orang sukses ini berkonsentrasi pada tugas yang bisa dikerjakan terlebih dahulu.
Kurangnya Disiplin Diri
Ketika kesulitan mengambil tindakan untuk mencapai tujuan, para ahli psikologi meminta untuk mencek perilaku disiplin dairi. Mencoba menginat serta menegakkan disiplin bisa meningkatkan performa untuk mencapai tujuan.
Banyak yang terjebak dengan godaan seperti menyaksikan film lewat aplikasi, atau menyelesaikan game, sehingga menghamat untuk menjalankan tujuan yang sudah ditetapkan.
Takut Gagal
Ketakutan merupakan sumber hamabatan terbesar yang menghalangi mengambil tindakan.
Ketakutan akan kegagalan, khususnya, dapat melumpuhkan.
Coba membayangkan segala kemungkinan kegagalan, dan pikiran-pikiran ini dapat begitu kuat sehingga menghalangi untuk mencoba.
Ketakutan ini sering kali berakar pada kurangnya rasa percaya diri atau pengalaman masa lalu saat gagal atau dikritik. Ini adalah naluri bertahan hidup di mana otak mencoba melindungi dari potensi bahaya.(ndi)
