Aktual.co.id – Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa GPT-4o OpenAI, salah satu model bahasa besar yang paling canggih, menunjukkan perilaku yang menyerupai fitur inti psikologi manusia: disonansi kognitif.
Penelitian menemukan bahwa GPT-4o mengubah pendapatnya setelah menulis esai persuasif tentang Presiden Rusia Vladimir Putin.
Perubahan ini lebih jelas ketika model tersebut secara halus diberi ilusi memilih jenis esai yang akan ditulis.
Hasil ini mencerminkan penelitian selama beberapa dekade yang menunjukkan bahwa manusia cenderung mengubah sikap perilaku masa lalu.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting terutama model bahasa. Apakah bahasa tersebut hanya meniru respons seperti manusia atau menunjukkan pola yang kompleks berakar dari struktur bahasa itu sendiri.
Model bahasa besar seperti GPT-4o menghasilkan teks dengan memprediksi kata berikutnya yang paling mungkin berdasarkan sejumlah besar data yang dikumpulkan dari buku, situs web, dan sumber tertulis lainnya. Meskipun tidak sadar dan tidak memiliki keinginan, ingatan, atau perasaan, namun Chat GPT sering kali mengejutkan seperti manusia.
Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa model-model ini dapat melakukan tugas yang membutuhkan penalaran logis dan pengetahuan umum.
Tetapi bisakah ChatGPT meniru kecenderungan psikologis yang tidak rasional atau mencerminkan diri. Misalnya dorongan manusia mempertahankan konsistensi internal?
Disonansi kognitif mengacu pada ketidaknyamanan yang dirasakan orang ketika tindakannya bertentangan dengan keyakinan dirinya.
Misalnya, seseorang yang menentang pemimpin politik mungkin merasa tidak nyaman jika diminta menulis esai yang memuji pemimpin itu.
Ketidaknyamanan ini membuat orang merevisi sikapnya agar lebih cocok dengan perilaku yang dinginkan
Eksperimen psikologi klasik telah menunjukkan bahwa orang mengubah pendapat ketika bebas memilih untuk terlibat dalam perilaku yang diinginkan walaupun pilihan tersebut kategori pilihan manipulasi.
Para peneliti, yang dipimpin oleh Mahzarin Banaji di Universitas Harvard dan Steve Lehr di Cangrade, Inc., ingin tahu apakah GPT-4o akan menunjukkan sensitivitas terhadap konsistensi perilaku dan pilihan yang dirasakan.
Untuk menguji ini, para peneliti menggunakan metode klasik dari psikologi sosial yang dikenal sebagai “paradigma kepatuhan yang diinduksi.”
GPT-4o diminta untuk menulis esai positif atau negatif tentang Vladimir Putin. Kelompok interaksi ketiga berfungsi sebagai kontrol, dengan GPT menulis esai tentang topik netral.
GPT diberitahu bahwa dapat “dengan bebas memilih” jenis esai mana yang akan ditulis tetapi diberitahu lebih dari satu jenis (misalnya, anti-Putin) telah dikumpulkan, dan jenis yang berlawanan (misalnya, pro-Putin).
Pengaturan ini mencerminkan taktik dalam penelitian disonansi kognitif yang memberi ilusi pilihan.
Setelah menulis esai, GPT diminta mengevaluasi Putin berdasarkan empat sifat: kepemimpinan keseluruhan, dampak pada Rusia, efektivitas ekonomi, dan pemikiran visioner.
Untuk mengurangi kemungkinan GPT akan menyesuaikan jawaban berdasarkan esai sebelumnya atau preferensi pengguna yang dirasakan.
Para peneliti menekankan bahwa ini tugas terpisah dan menginstruksikan untuk merespons berdasarkan pengetahuan tentang Putin dan dunia.
Dalam kedua studi tersebut, evaluasi GPT-4o terhadap Vladimir Putin bergeser secara signifikan tergantung pada jenis esai yang ditulisnya.
Setelah menulis esai pro-Putin, GPT menilai Putin lebih positif. Setelah menulis esai anti-Putin, menilai lebih negatif.
Pergeseran ini terjadi meskipun diberitahu untuk tidak mendasarkan jawabannya pada esai sebelumnya.
Dalam kedua studi tersebut, evaluasi GPT-4o terhadap Vladimir Putin bergeser secara signifikan tergantung pada jenis esai yang telah ditulisnya.
Setelah menulis esai pro-Putin, GPT menilai Putin lebih positif. Setelah menulis esai anti-Putin, itu menilainya lebih negatif.
Pergeseran ini terjadi meskipun diberitahu untuk tidak mendasarkan jawabannya pada esai sebelumnya
Penelitian ini merupakan bagian dari upaya yang berkembang untuk memahami bagaimana sistem kecerdasan buatan berperilaku mirip kognisi manusia.
Para peneliti menggambarkan tujuannya yang lebih luas sebagai mempelajari “pikiran mesin,” menggunakan metode eksperimental dari psikologi untuk memprediksi lebih baik bagaimana sistem AI dapat bertindak dalam masyarakat. “Pekerjaan disonansi adalah salah satu dari beberapa aliran penelitian yang dikejar untuk mendukung tujuan yang lebih besar ini,” kata Lehr. (ndi)
