Aktual.co.id – Dunia tengah digegerkan penyakit virus Nipah dengan tercatat beberapa negara yang melaporkan kasus ini Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, dan Filipina, demikian ungkap dr. Agus Hidayat, Sp.P(K), dokter spesialis paru RSU Dr Soetomo Surabaya.
“Di negara tersebut total kasus konfirmasi hingga tahun 2018 sebanyak 643 kasus dengan 380 kematian,” katanya.
Dikatakan oleh dr. Agus bahwa Kejadian Luar Biasa (KLB) kali pertama dilaporkan pada bulan September 1998 pada peternak babi di Kampung Sungai Nipah, Malaysia.
“Data per januari 2026 ditemukan kasus konfirmasi positif 2 orang tenaga Kesehatan di wilayah timur negara India. Kasus penyakit virus Nipah menjadi perhatian utama karena kematiannya cukup tinggi berkisar antara 40-75%,” ungkap dr Agus.

Sumber penularan, kata dr Agus, umumnya kelelawar atau hewan lain seperti babi, gula nira atau aren yang terkontaminasi kotoran atau cairan produk binatang yang terinfeksi virus nipah atau antar manusia yang menderita virus nipah.
“Penyakit emerging zoonotic yang disebabkan oleh virus Nipah yang ditularkan dari hewan liar maupun domestik dengan kelelawar buah yang termasuk kedalam famili Pteropopidae sebagai host alamiahnya,” ungkapnya.
Gejala pada penyakit ini akan timbul 4-14 hari setelah terpapar virus Nipah, tambahnya, namun dilaporkan ada yang masa inkubasi hingga 45 hari.
“Gejala yang timbul bervariasi,dari yang ringan tanpa gejala hingga berat sampai timbul kematian,” kata dr. Agus.
Dirinya menjelaskan jika gejala atau gangguan akibat infeksi virus Nipah meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri tenggorokan, mudah mengantuk, kejang, penurunan kesadaran hingga gangguan syaraf (ensefalitis akut).
“Gejala lainnya yang bisa berakibat fatal, adanya infeksi pada paru paru (pneumonia), ARDS (gagal nafas) hingga berakibat kematian,” jelasnya.
Sedangkan penularan dikatakan oleh dr.Agus bisa melalui kontak langsung dengan hewan melalui air seni, air liur, darah, sekresi pernafasan yang terinfeksi
Konsumsi daging mentah atau produk makanan mentah dari hewan yang terkontaminasi dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi (seperti : nira, gula aren, buah-buahan)
“Kontak dengan manusia yang terinfeksi atau terpapar cairannya (droplet atau dahak, ingus, air seni, darah). Bisa terjadi pada tenaga kesehatan yang merawat pasien atau keluarganya,” katanya.
Sayang, tambah dr.Agus, sampai saat ini belum ditemukan obat untuk membunuh virus Nipah. Pengobatan yang diberikan bersifat supportif dan simptomatis untuk menangani gejala gejala yang ditimbulkan akibat infeksi virus Nipah.
“Pengobatan yang diberikan dapat berupa pemberian cairan melalui infus atau peroral, multivitamin, penurun panas, antibiotic bila ada infeksi sekunder, oksigenasi dan perawatan di ICU atau Ruang Isolasi sesuai keadaan klinis penderita,” ungkapnya.
Untuk pencegahan maka dr Agus menyampaikan agar tidak mengkonsumsi nira atau gula aren yang langsung dari pohonnya.
“Jika mengkonsumi maka dimasak lebih dahulu. Mengupas dan mencuci buah sebelum dikonsumsi, tidak mengkonsumsi buah bila ditemukan bekas gigitan kelelawar,” ulasnya.
Menghindari kontak dengan hewan ternak babi dan kuda yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah. Bila harus melakukan kontak maka gunakan Alat Pelindung Diri (APD) termasuk petugas pemotongan hewan. “Hewan yang terinfeksi virus Nipah tidak boleh dikonsumsi,” pungkasnya.
Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (GERMAS),seperti cuci tangan, etika batuk dan bersin. (ndi)
