Aktual.co.id – Kwetiau bukan sekadar mi putih pipih yang mengenyangkan. Dia adalah simbol migrasi, adaptasi, dan perpaduan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Di Indonesia, kwetiau menempati posisi spesial bersanding dengan nasi goreng dan mi goreng sebagai “tiga besar” kuliner kaki lima.
Kwetiau berasal dari etnis Hokkien dan Tiochiu di Tiongkok Selatan. Secara etimologi, nama “Kwetiau” berasal dari dialek Hokkien guǒtiáo.
Di tempat asalnya, kwetiau dibuat dari tepung beras karena wilayah Tiongkok Selatan lebih subur untuk tanaman padi dibandingkan gandum yang populer di utara.

Awalnya, makanan ini adalah hidangan sederhana bagi para petani dan pekerja pelabuhan. Teksturnya yang kenyal dan sifatnya yang cepat mengenyangkan menjadikannya bekal energi yang praktis.
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, gelombang migrasi besar-besaran etnis Tionghoa menuju Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura turut membawa tradisi kuliner ini.
Di Indonesia, pengaruh terkuat kwetiau masuk melalui kota-kota pelabuhan. Medan dan Pontianak dan dinobatkan sebagai ibu kota kwetiau karena populasi etnis Tionghoa yang besar kemudian melahirkan varian lokal yang sangat khas.
Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, terjadi adaptasi bahan. Di kedai-kedai umum, penggunaan daging babi sering kali diganti dengan daging sapi, ayam, atau seafood, serta penambahan kecap manis yang merupakan bumbu khas Nusantara.
Kunci kelezatan kwetiau terletak pada teksturnya. Berbeda dengan mi gandum yang cenderung elastis, kwetiau memiliki kelembutan yang unik namun tetap memiliki “gigitan” (chewy).
Selain itu, permukaan kwetiau yang lebar membuatnya sangat efektif dalam menyerap bumbu dan saus, memberikan ledakan rasa di setiap suapan.
Dari hidangan buruh di pelabuhan Tiongkok hingga menjadi menu restoran bintang lima dan tenda kaki lima, kwetiau menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Ia adalah bukti bagaimana resep sederhana dapat bertahan melewati zaman dengan cara beradaptasi dengan lidah lokal tanpa kehilangan jati dirinya. (ndi)
