Aktual.co.id – Menghabiskan waktu di media sosial, baik sekadar menggulir postingan atau terlibat aktif dalam postingan, dapat menyebabkan peningkatan perasaan kesepian seiring berjalannya waktu.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin mengungkapkan bahwa kedua jenis penggunaan media sosial dikaitkan dengan peningkatan rasa kesepian.
Menurut catatan Psypost yang ditulis oleh Eric W. Dolan, mantan jurnalis, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan media sosial dan rasa kesepian mengalalmi meningkat signifikan. “Meskipun media sosial menjanjikan untuk terhubung dan membangun komunitas, banyak yang melaporkan merasa lebih terputus dari sebelumnya,” tulisnya.
Laporan dari organisasi seperti U.S. Surgeon General menyoroti “epidemi kesepian” yang berkembang. Organisasi tersebut mencatat bahwa kurangnya koneksi fisik sosial dapat merugikan kesehatan dengan memicu merokok 15 batang sehari.
Sementara beberapa penelitian menunjukkan media sosial dapat mengurangi rasa kebersamaan. Ditulis oleh Eric, jika peneliti telah melakukan menyelidikan kepada pengguna media sosial bahwa kesepian bisa meningkat karena skrol media sosial.
Sementara penulis studi media massa James Z Robert memberikan gambaran tengan perilaku pengguna internet ini. “Lebih dari 10 tahun terakhir fokus penelitian saya adalah pada penggunaan ponsel dan media sosial serta dampaknya terhadap kesejahteraan,” tulisnya.
Disebutkan jika media massa memberikan peran penting untuk pembentukan karakter. Namun dengan aktif di media sosial juga mempengaruhi kepribadian seperti merasa kesepian. Mereka terpaku dengan harinya di depan ponsel.
Sementara profesor pemasaran Ben H. Williams dari Sekolah Bisnis Hankamer di Universitas Baylor menuliskan bahwa, banyak yang tahu bahwa media sosial meningkatkan endemi kesepian di Amerika Serikat.
Tim peneliti menggunakan data dari studi jangka panjang dan berskala besar di Belanda yang disebut panel Studi Internet Longitudinal untuk Ilmu Sosial. Studi panel ini mengumpulkan data tahunan dari sampel representatif rumah tangga Belanda sejak 2008.
Studi khusus ini, para peneliti menganalisis data selama sembilan tahun, dari 2014 hingga 2022. Sampel tersebut mencakup 6.965 peserta dewasa, dengan sedikit lebih dari separuhnya adalah perempuan.
Usia rata-rata peserta pada awal penelitian adalah sekitar 50 tahun. Peserta menyelesaikan survei setiap tahun, menjawab pertanyaan tentang penggunaan media sosial dan perasaan kesepian mereka.
Para peneliti tertarik pada dua jenis penggunaan media sosial: pasif dan aktif. Penggunaan media sosial pasif didefinisikan sebagai waktu yang untuk membaca dan melihat konten tanpa berinteraksi. Peserta melaporkan berapa jam per minggu dihabiskan untuk menjelahah akun sosial.
Sebaliknya, penggunaan media sosial aktif mencakup waktu memposting pesan, foto, dan video, serta berinteraksi dengan orang lain. Peserta juga melaporkan berapa jam per minggu yang dihabiskan untuk jenis penggunaan aktif ini.
Untuk mengukur kesepian, penelitian menggunakan kuesioner enam item yang sudah mapan. Pengukuran ini menanyakan kepada peserta tentang berbagai aspek kesepian, seperti merasakan kekosongan.
Apakah mereka memiliki orang yang dapat diandalkan, dan seberapa terhubungnya dengan orang lain. Peserta menilai persetujuan mereka terhadap pernyataan ini dan respons digabungkan untuk menghasilkan skor kesepian.
Para peneliti menggunakan model statistik yang dirancang untuk melacak perubahan dari waktu ke waktu untuk memeriksa berbagai jenis penggunaan media sosial terkait dengan kesepian. Model ini memungkinkan menilai penggunaan media sosial pada satu titik waktu terhadap kesepian di tahun berikutnya
Temuan tersebut mengungkapkan hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial pasif dan aktif dan peningkatan kesepian dari waktu ke waktu. Individu yang melaporkan penjelajahan pasif di awal penelitian mengalami peningkatan kesepian yang lebih besar.
Sementara pengguna media sosial pasif tanpa terlibat komuniasi di berbagai akun media sosial dapat berkontribusi meningkatnya perasaan terisolasi.
Peserta yang menghabiskan waktu untuk memposting dan berinteraksi dengan orang lain melaporkan peningkatan rasa kesepian yang lebih tajam. Temuan ini menantang anggapan bahwa partisipasi aktif di media sosial membantu mengurangi rasa kesepian.
“Hasil penelitian kami mengonfirmasi kecurigaan bahwa tidak peduli bagaimana media sosial digunakan, media sosial adalah pengganti yang buruk untuk interaksi tatap muka,” kata Roberts kepada PsyPost.
Dalam penelitiannya menyebukan jika platform Tiktok, Youtube Short memunculkan adiktif dibanding bentuk media sosial lain dalam hal ini facebook. Menskroll akun video pendek memperburuk kesepian pada seseorang.
Kesepian adalah krisis kesehatan yang signifikan dengan implikasi kesehatan yang serius. Artinya hubungan sosial dan kekerabatan akan terganggu karena lebih asyik menscrol media sosial dibanding bertemu dengan teman atau saudara. (ndi)
