Aktual.co.id – Tumbuh besar dengan orang tua yang bercerai tidak selalu diidentikkan dalam bentuk yang buruk.
Hanya saja menurut penulis dan psikolog Ava Sinclair yang dimuat geediting mengatakan, kepribadian dari orang atau anak yang berkembang dalam rumah tangga bercerai ada perbedaan dibanding anak dalam lingkungan harmonis.
Seringkali, pengalaman-pengalaman ini dapat mengarah pada perkembangan sifat-sifat tertentu meski tidak seluruhnya akan memiliki hal serupa.
Tangguh
Sifat yang paling penting dipahami adalah individu yang tumbuh di lingkungan perceraian tumbuh mengembangkan kekuatan yang luar biasa.
Anak ini telah melewati masa-masa sulit, melihat sisi baik, buruk, dan jelek, dan berhasil melewatinya semua rintangan tersebut.
Perjalanan ini dapat menanamkan dalam dirinya ketahanan dan ketangguhan tertentu yang tidak bisa diremehkan.
Pemahaman Tentang Ketidakkekalan
Perceraian adalah contoh nyata bagaimana segala sesuatu dapat berubah. Pelajaran ini dapat menanamkan pemahaman mendalam kepada anak korban perceraian tentang kefanaan hidup.
Anak ini akan menyadari bahwa keadaan bisa berubah dan pernikahan bisa berubah. Meskipun terdengar negatif namun tampaknya belum tentu demikian.
Pemahaman tentang ketidakkekalan ini dapat menumbuhkan rasa ketahanan. Karena telah melihat langsung perubahan dalam bentuk perceraian dan menghadapi pasang surut kehidupan.
Takut Berkomitmen
Harus kuakui, untuk waktu yang lama, gagasan tentang komitmen adalah sesuatu yang membuat anak ini takut dikemudian hari
Anak ini pernah menyaksikan pernikahan orang tuanya berantakan dan hal itu membuat rasa takut untuk menjalin komitme ketika menginjak usia pernikahan.
Untuk mengatasi hal ini maka butuh proses serta pendampingan jika dibutuhkan untuk mengabaikan rasa takut untuk berkomitmen dalam pernikahan.
Nilai Petingnya Komunikasi
Melihat orang tua bercerai dapat menekankan pentingnya komunikasi. Kesalahpahaman, asumsi, dan kurangnya komunikasi dapat berkontribusi pada keretakan hubungan.
Akibatnya, banyak orang yang tumbuh besar dengan orang tua yang bercerai sering kali mementingkan komunikasi dalam hubungannya sendiri.
Anak ini akan berusaha bersikap jelas, terbuka, dan jujur dalam interaksi untuk menghindari jebakan yang telah disaksikan sendiri dari kedua orang tuanya.
Ini bukan berarti pandai berkomunikasi, tetapi seringkali mengedepankan komunikasi untuk membantu membangun hubungan yang lebih sehat dan transparan.
Kemampuan Beradaptasi
Kemampuan beradaptasi ini tidak terbatas pada kehidupan pribadi, tetapi dapat meluas ke kehidupan profesionalnya, menjadikan mereka aset berharga di tempat kerja yang menghargai fleksibilitas dan kemampuan menangani perubahan.
Kemampuan beradaptasi bukti ketangguhan dan kemampuan dalam menavigasi tantangan hidup, yang membantu dalam banyak aspek kehidupan.
Empati
Tidak sedikit anak yang tumbuh dalam lingkungan orang tua bercerai berusaha menjadi mediator ketika kedua orang tuanya berkonflik.
Peran ini menanamkan rasa empati dalam diri anak dalam keluarga bercerai. Anak ini bisa merasakan dan memahami tentang pengalaman emosional orang lain sehingga memunculkan empati pada dirinya.
Sifat ini merupakan berkah sekaligus kutukan. Di satu sisi, sifat ini memungkinkan membangun hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang lain. Di sisi lain, terasa begitu berat untuk merasa begitu peka terhadap emosi orang lain.
Kemerdekaan
Tumbuh besar dengan orang tua yang bercerai sering kali harus beradaptasi dengan rumah tangga, aturan, dan harapan yang berbeda.
Hal ini memang membingungkan dan menantang, tetapi bisa menghasilkan anak-anak yang lebih mudah beradaptasi dan mandiri di usia muda.
Mereka belajar sejak dini cara menghadapi perubahan dan situasi sulit. Jalannya memang tidak selalu mudah, tetapi dapat membentuk ketahanan dan kemandirian yang dibawa hingga dewasa.
Kemandirian ini bisa menjadi kekuatan yang memungkinkan individu-individu ini menghadapi tantangan hidup secara langsung. (ndi)
