Aktual.co.id – Remaja yang kurang tidur berisiko mengalami kecemasan dan depresi sehingga memicu pemikiran negative di dalam benaknya. Penelitian ini dipublikasikan dalam Clinical Psychological Science.
Masalah tidur umum terjadi pada remaja, tetapi implikasinya lebih dari sekadar kelelahan. Meskipun penelitian menetapkan hubungan antara kurang tidur dengan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan makan, namun mekanisme yang mendasarinya masih belum jelas.
Cele Richardson dan timnya menyelidiki tentang pemikiran negatif dalam bentuk kekhawatiran dan perenungan yang tidak terkendali memicu masalah ini. Mereka berhipotesis kurang tidur memicu persoalan kecemasan sehingga memperburuk gejala kesehatan mental.
Para peneliti mengikuti 528 remaja dari Risks to Adolescent Wellbeing Project di Sydney, Australia selama 5 tahun. Peserta, berusia 10-12 tahun, dinilai setiap tahun hingga usia 16-18 tahun. Perekrutan mencakup sekolah, program setelah sekolah, klub olahraga, pusat medis, dan kelompok masyarakat.
Setiap tahun, peserta menyelesaikan survei daring yang mengukur: 1) pola tidur, termasuk kronotipe (preferensi pagi/sore), jam tidur pada malam hari di sekolah, dan frekuensi kantuk di siang hari; 2) pemikiran negative atau repetitive negative thinking (RNT), dibedakan antara RNT umum dan RNT sebelum tidur, dan 3) gejala kesehatan mental, meliputi kecemasan umum, kecemasan sosial, depresi, dan gangguan makan.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kurang tidur berkontribusi peningkatan gejala kecemasan, depresi, dan gangguan makan pada remaja. Masalah tidur memprediksi peningkatan RNT umum dan sebelum tidur.
Meningkatnya pola pikir negatif ini kemudian menyebabkan memburuknya gejala kesehatan mental, dan efeknya bertahan selama periode studi lima tahun.
Perlu dicatat, meskipun gangguan tidur memprediksi gejala kesehatan mental di kemudian hari, namun hubungan sebaliknya tidak diamati secara konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa masalah tidur dapat berfungsi sebagai faktor risiko awal untuk gangguan sosial-emosional.
RNT pratidur atau khawatir khusus sebelum tertidur, muncul sebagai hal yang penting dalam menjelaskan hubungan antara kurang tidur dan masalah kesehatan mental. Remaja dengan tingkat RNT pratidur yang tinggi, menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap timbulnya kecemasan dan depresi.
Penelitian ini mengandalkan data yang dilaporkan sendiri, yang kurang tepat jika dibandingkan dengan tidur yang objektif diukur menggunakan aktigrafi, sebuah perangkat untuk melacak pola tidur.
Temuan ini menyoroti nilai potensial dalam menangani masalah tidur dan pikiran negatif pada remaja sebagai pendekatan pencegahan masalah kesehatan mental. (ndi)
