Aktual.co.id – Media sosial dibanjiri dengan orang-orang yang membentar label Narsisistik.
Semua orang yang tidak sejalan dengan dirinya langsung dicap sebagai naraisiatik.
Banyaknya diagnosa yang tidak mendaaar ini memunculkan banyak keraguan ciri narsisistik yang sesungguhnya.
Namun para peniliti psikologi menjelaskan jika kepribadian narsisistik ini memang ada.
Hanya saja narsisistik ini memiliki tingkatan sesuai kadar keparahannya.
Ada jenis narsisistik yang ditemukan beberapa psikolog. Pertama narsisistik megah yang ditandai gaya yang terang – terangan, agresif dan dominan.
Kedua narsisistik rentan yang ditandai dengan introversi, hipersensitivitas terhadap kritik dan tidak aman menutupi harga diri.
Keduanya memiliki karakter yang sama yakni sifat antagonis seperti manipulasi dan kurangnya empati terhadap sesama.
Narsisme yang rentan, umumnya terlibat dalam pengeboman cinta, ghosting, dan breadcrumbing.
Tipe ini juga cenderung melaporkan kepuasan hubungan yang kurang mendalam, memiliki sikap permisif terhadap perselingkuhan dan melakukan kekerasan pasangan intim.
Para peneliti mencoba merangkai awal gangguan narsisistik sejak dari pengasuhan.
Dijelaskan jika peran pola asuh ketika masih anak anak bisa menentukan seseorang menjadi kepribadian narsisistik.
“Jika merasa aman, dicintai, dan didukung sebagai anak-anak, lebih cenderung memiliki pandangan positif tentang diri sendiri dan orang lain,” kata psikolog Megan Wills.
Tetapi ketika hubungan awal ditandai pengabaian, ketidakkonsistenan atau pelecehan maka dapat menimbulkan gaya narsisistik.
Akibatnya, si anak akan melihat orang lain dari sudut pandang negatif dan berjuang sendiri untuk mendapatkan keintiman, namun justru yang terjadi memanipulasi pasangan untuk kepuasan dirinya.
Untuk meredam narsisistik akibat keterikatan pola asuh semasa kecil, maka perlu terapi penyembuhan luka masa kecil.
Terapi yang berfokus pada keterikatan, seperti terapi skema dan terapi emosi, dapat membantu individu menyembuhkan luka masa kecil dan membangun pola hubungan yang lebih aman.
Pendekatan ini mungkin membantu bagi yang sangat rentan terhadap narsisme.
Sementara orang tua juga perlu mendapatkan terapi untuk menyembuhkan luka lama yang pernah dideritanya sejak dahulu.
Pendampingan orang tua terhadap pola asuh anak juga sangat penting untuk mendapatkan pendidikan karakter yang maksimal.
Mendukung pengasuhan yang sehat menghasilkan karakter yang tangguh untuk berhadapan dengan
Mendukung orang tua untuk membangun keterikatan yang aman dengan anak-anak dan melengkapi ilmu untuk menjadi orang tua yang sesuai dengan tumbuh kembang anak. (ndi)
