Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan dalam Biodemography and Social Biology menyajikan investigasi paling detail yakni menggunakan kumpulan data besar dari Tiongkok untuk mengkaji paparan sinar matahari berkaitan dengan kesehatan mental.
Para peneliti menemukan bahwa orang-orang melaporkan kepuasan hidup pada hari-hari yang lebih cerah dan menunjukkan penurunan gejala depresi setelah minggu yang lebih cerah.
Penelitian ini dimotivasi oleh minat untuk memahami bagaimana faktor lingkungan memengaruhi kesejahteraan subjektif.
Meskipun dampak buruk polusi udara dan suhu ekstrem telah terdokumentasi dengan baik, studi tentang paparan sinar matahari masih belum konsisten.
Beberapa studi menemukan bahwa kondisi yang lebih cerah dapat meningkatkan suasana hati atau mengurangi gejala depresi.
Para peneliti ingin mengklarifikasi masalah ini menggunakan pendekatan yang lebih tepat dan komprehensif daripada penelitian sebelumnya.
Peneliti bertujuan mengukur efek langsung paparan sinar matahari, tetapi juga sinar matahari selama seminggu terakhir dapat dikaitkan dengan perubahan gejala kesehatan mental.
Untuk menjawab pertanyaan ini, peneliti menggabungkan data delapan tahun dari Studi Panel Keluarga Tiongkok dengan catatan cuaca harian dari ratusan stasiun meteorologi.
Data survei mencakup wawancara berulang dengan 30.000 orang dalam lima gelombang yang dilakukan antara tahun 2010 dan 2018.
Peserta menjawab pertanyaan tentang kepuasan hidup dan beberapa tahun, mengisi kuesioner standar yang menilai gejala depresi terkini.
Karena wawancara ini dilakukan di semua musim dan wilayah, dan tanggal wawancara tidak direncanakan sebelumnya, para peneliti dapat mencocokkan respons dengan jumlah sinar matahari yang tercatat di wilayah peserta pada hari tersebut.
Kepuasan hidup dinilai menggunakan pertanyaan standar yang meminta responden menilai kepuasan hidup dalam skala 1 (tidak puas sama sekali) hingga 5 (sangat puas).
Gejala depresi diukur dengan skala Depresi versi singkat dari Center for Epidemiologic Studies. Skala ini mencakup delapan pertanyaan yang menanyakan gejala seperti kesedihan, kesepian, atau gangguan tidur selama seminggu terakhir.
Setelah memperhitungkan berbagai faktor, termasuk polusi udara, suhu, curah hujan, kecepatan angin, kelembapan, pendapatan, usia, pendidikan, dan kesehatan, para peneliti menemukan hubungan yang kecil namun konsisten antara sinar matahari dan kepuasan hidup.
Orang-orang yang diwawancarai pada hari-hari banyak sinar matahari melaporkan kepuasan hidup yang sedikit lebih tinggi.
Misalnya, mendapat sinar matahari lebih dari 11 jam ada sedikit peningkatan kepuasan hidup dibandingkan dengan hari berawan.
Peneliti memverifikasi paparan sinar matahari di masa mendatang yaitu, jumlah sinar matahari setelah wawancara.
Peneliti juga menganalisis ulang data menggunakan berbagai set kontrol statistik dan menemukan hasil yang serupa.
Temuan ini berkontribusi pada semakin banyaknya penelitian yang mengeksplorasi kondisi lingkungan sehari-hari berhubungan dengan kesejahteraan mental dan emosional.
Studi ini menunjukkan bahwa sinar matahari dapat memiliki efek nyata pada perasaan seseorang meski hanya beberapa persen pengaruhnya.
Hasil ini dapat membantu mengoreksi keyakinan tentang kekuatan cuaca cerah untuk meningkatkan suasana hati dengan suasana cerah.
Maka kesimpulannya adalah sinar matahari memang penting untuk suasana mood, tetapi itu hanyalah satu bagian dari teka-teki yang lebih besar dalam hal kebahagiaan dan kesehatan mental manusia. (ndi/psypost)
