Aktual.co.id – Sebuah tulisan dari Isabella Chase di situs geediting mengungkapkan individu yang memilih tetap melajang meski usia sudah siap untuk melakukan pernikahan.
Dalam penulisan pengantarnya, Isabella menuliskan jika memilih hidup melajang memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kehidupan.
Berikut karakter khas yang dimiliki oleh seseorang yang memilih untuk hidup sendiri berdasarkan analisa psikologi.
Mempraktikkan Kesendirian yang Positif
Kesendirian bukan berarti tidak ada orang lain melainkan kehadiran diri sendiri. Meditasi teratur, sesi penulisan jurnal, jalan-jalan sendirian di alam, bagian dari kesendirian yang positif.
Bella DePaulo pernah menulis, “Kebebasan untuk melajang adalah menciptakan jalan hidup yang tidak sama dengan jalan hidup orang lain karena tidak sama dengan orang-orang yang memilih hidup berdampingan.”
Bagi yang menguasai praktik kesendirian, maka akan mudah menjalani hidup dengan melajang meski bagi banyak orang terasa tidak lazim.
Fleksibilitas Tanpa Negoisasi
Fleksibilitas dalam konteks ini adalah dapat beralih dari sesi satu ke sesi berikutnya tanpa ada keterikatan negoisasi dengan pasangan.
Pribadi ini sering kali menemukan kegembiraan dalam mengubah arah tanpa negosiasi, memandang spontanitas sebagai kemewahan hidup yang terbesar.
Keterbukaan Terhadap Pengalaman
Seringnya kemana – mana secara spontan membuat pribadi yang melajang memiliki pengalaman yang tanpa batas.
Penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan dapat menjadi penangkal kesepian dengan mengubah kesendirian menjadi penjelajahan yang menyenangkan.
“Para lajang melihat dunia sebagai sesuatu yang patut dicicipi dan dijelajahi bukan sesuatu yang mesti ditunggu,” kata Isabella.
Batasan Pribadi yang Jelas
Ketika hidup sendiri akan mengalami hal tidak terduga seperti kunjungan yang mendadak, komentar yang tidak nyaman sehingga menuntut orang ini mendirikan tembok pembatas.
Para lajang yang sukses akan menanggapi semua penilaian ini dengan kalimat “tidak”. Menetapkan batasan melindungi seseorang dari kelelahan mental karena gesekan psikologis lingkungan.
Batasan-batasan ini bukan sekadar tembok melainkan kerangka agar hubungan dapat berjalan dengan baik.
Kemandirian Terhadap Keuangan
Orang lajang cenderung membuat anggaran dengan cermat, berinvestasi lebih awal, dan mendiversifikasi aliran pendapatan secara detail.
Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keuangan mendorong pemahaman mendalam tentang uang mulai cara memperolehnya serta membelanjakannya secara tepat
Dan tingkat kendali itu dapat membangun kepercayaan diri yang meresap ke setiap bagian kehidupan, dari perjalanan hingga rencana pensiun.
Jaringan Sosial
Para jomblo jarang menyamakan sendiri dengan terisolasi. Individu ini sengaja membangun lingkaran pertemanan yang berlapis-lapis untuk berbincang-bincang sembari mengembangkan kemampuan.
Laporan Pew Research Center tahun 2020 menemukan bahwa 55% orang lajang bertemu teman setidaknya seminggu sekali, melampaui 43% yang dilaporkan oleh orang yang sudah menikah.
Para lajang sering kali mengambil tanggung jawab penuh atas kesehatan sosialnya dengan membangun hubungan yang berkualitas alih-alih mengutamakan kedekatan atau kenyamanan.
Kesadaran Diri yang Kuat
Kebanyakan orang lajang meluangkan banyak waktu untuk merenung bisa melewati meditasi, kadang lewat penulisan jurnal. Tinjauan Frontiers in Psychology tahun 2022 mencatat para lajang yang melaporkan kepuasan hidup tertinggi mendapat skor tinggi pada keterbukaan dan kehati-hatian.
Kesadaran diri memberi kejelasan tentang apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang telah diinginkan. Keselarasan internal ini sering kali menjadi kompas bagi kedamaian pribadi dan pengambilan keputusan jangka panjang.
Kenyamanan dengan Otonomi
Orang dewasa yang hidup sendiri cenderung menunjukkan “orientasi otonomi” yang tinggi. Satu studi lintas budaya terhadap 629 orang dewasa menemukan bahwa orang yang memilih hidup melajang secara konsisten mendapat skor lebih rendah pada ukuran ketakutan menjadi lajang dan lebih tinggi pada motivasi otonom untuk pilihan sehari-hari.
Otonomi tersebut meluas ke dalam pekerjaan, hobi, dan bahkan kebiasaan tidur. Orang-orang ini tidak sekadar menoleransi kesendirian namun membentuk menjadi ruang di mana kebebasan pribadi dan kreativitas dapat berkembang. (ndi)
