Aktual.co.id – Sebuah studi terhadap orang dewasa muda yang mengalami putus cinta menemukan peningkatan reaktivitas di hipokampus dan amigdala ketika partisipan diperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan putus cinta.
Peningkatan aktivitas otak ini bergantung pada karakteristik spesifik dari putus cinta tersebut, seperti siapa yang memulainya atau apakah partisipan merasa dikhianati. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders .
Hubungan romantis memainkan peran penting dalam masa dewasa awal, periode yang ditandai dengan eksplorasi identitas dan perkembangan emosional.
Banyak individu mengalami hubungan serius dan jangka panjangnya yang dapat menawarkan dukungan emosional, keintiman, dan rasa stabilitas.
Namun, putus cinta umum terjadi selama masa ini dan sangat menyusahkan. Para dewasa muda mengalami rasa sakit emosional yang hebat, kesedihan, dan penurunan harga diri setelah putus cinta.
Peristiwa ini dapat menyebabkan gejala depresi, kecemasan, dan, dalam beberapa kasus, stres pascatrauma terutama ketika hubungan tersebut sangat bermakna.
Putus cinta juga dapat merusak kepercayaan pada calon pasangan atau memengaruhi keyakinan tentang cinta dan komitmen.
Penulis utama ASJ Van der Watt dan rekan-rekannya menyelidiki bagaimana para dewasa muda yang menganggap putus cinta sebagai trauma psikologis merespons stimulus terkait putus cinta dalam pemindai fMRI.
Secara khusus, mereka memeriksa respons yang bergantung pada kadar oksigen darah (BOLD) di amigdala, hipokampus, dan insula area otak yang terlibat dalam memori emosional, deteksi ancaman, dan pemrosesan saliensi.
Para peneliti berhipotesis bahwa partisipan akan menunjukkan peningkatan aktivasi di area otak ketika melihat gambar terkait putus cinta.
Studi ini melibatkan 94 peserta berusia 18 hingga 25 tahun yang melaporkan mengalami gejala stres pascatrauma (PTSS).
Studi ini juga menemukan ada perbedaan individu yang memengaruhi respons otak. Pada kelompok yang putus cinta maka terjadi peningkatan aktivasi hipokampus dan amigdala.
Gaya keterikatan, pengabaian di masa kecil, dan orientasi seksual juga dikaitkan dengan perbedaan aktivasi otak.
Studi ini menunjukkan bahwa putus cinta di kalangan anak muda bisa menjadi peristiwa traumatis. Namun, studi ini dilakukan pada sekelompok kecil orang dewasa muda. (ndi/psypost)
